Teman biarkan ‘singa-singa” penuh semangat hadir dalam jiwa kita. Rawatlah “singa-singa ” itu dengan keluhuran budi, dan kebersihan nurani. Susunlah bulu-bulu kedamaian, cermati terus rahang persahabatan. Perkuat punggung optimisme, dan pertajam selal kuku-kuku kesabaran miliknya.
DUA EKOR SINGA
Suatu sore ditengah telaga terlihat dua orang memancing. Tampaknya mereka ayah dan anak sedang menghabiskan waktu bersama. Diatas perahu kecil , keduanya sibuk mengatur joran dan umpan. Air telaga bergoyang-goyang membentuk riak. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang hingga terdengar sebuah percakapan,
“Ayah..”
“Hmm.., ya! Sang Ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada kailnya yang terjulur.
“Berapa malam ini…..” ucap sang anak “ aku selalu bermimpi aneh. Dalam mimpiku ada dua ekor singa tampak sedang berkelahi dalam hatiku. Gigi-gigi mereka tampak runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan menggeram seperti saling menerkam. Mereka tampak saling ingin menjatuhkan…”
Anak muda ini tampak diam sejenak lalu melanjutkan ceritanya,
“ Singa yang pertama terlihat baik dan tenang. Gerakannya perlahan namun pasti. Badannya kokoh, bulunya teratur. Walaupun suaranya keras namun terdengar menenangkan buatku.”
Ayah menoleh dan meletakkan pancingan di pingiran halauan.
“ Tapi Ayah, singa yang satunya lagi menakutkan. Gerakannya tak beraturan, sibuk menerjang ke sana kemari. Punggungnya kotor, bulunya koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.”
“ Aku bingung apa maksud mimpi itu. Apakah singa-singa itu gambaran sifat baik dan buruk yang ak miliki? Dan, singa manakah yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka sama-sama kuat?”
Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggng pemuda gagah didepannya. Sambil tersenyum si Ayah berkata,
“ Pemenngnya adalah yang sering kamu beri makan. “
Ayah kembali tersenyum dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan kuat dilontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Elombag riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih ditepian telaga.
Teman begitulah adanya. Setiap diri manusia mempunyai dua ekor “singa” yang selalu bersaing. Keduanya selalu berusaha untuk saling menjatuhkan. Mereka berusaha untuk menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Pertarunan antar mereka tak pernah tuntas karena selalu saja terjadi pergiliran kemenangan. Kalah menang dalam pertarungan itu layaknya mata koin yang selalu berganti-ganti dan kita sering dibuat bingung, sebab kekuatan baik buruk itu terlihat sama kuat. Tapi siapakah pemenangnya saat ini dalam iri kita? ” Singa yang kokoh dan bulu teratur” ataukah “singa yan berbulu koyak dan menakutkan”? lalu singa apa yan kini menguasai kita? “singa” yang optimis, pantang menyerah, tekun, sabar, damai, rendah hati, dan toleran, ataukah “singa” yang pesemistis, tertekan, mudah menyerah, sombong, dan penuh dengki?
Percayalah kita sendiri yang menentukan kemenangan bagi kedua “singa”itu. Jika kita sering memberi “makan” pada “singa” yang damai tadi maka imbalan kebaikanlah yan akan kita dapatkan. Jika kita terbiasa memupuk optimisme dan pantang menyerah, maka “singa” keberhasilanlah yang akan kita peroleh. Namun sebaliknya, jika kita setiap saat memendam marah, menebar prasangka dan dengki, bersikap tak sabar dan mudah menyerah, maka akan jelaslah “singa” macam apa yang jadi pemenangnya.
Teman, biarkan “singa- singa” penuh semangat hadir dalam jiwa kita. Rawatlah “singaan” “singa- singa” itu yang terjadi “singa” it denan keluhuran budi, dan kebersihan nurani. Susunlah bulu- bulu kedamaian, cermati terus rahang persahabatan. Perkuat punggung optimisme, dan pertajam lalu kuku- kuku kesabaran miliknya. Biarkan “singa- singa” itu yang jadi pemenang. Namun jangan biarkan “singa” pemarah menguasai pikiran kita. Jangan pernah memberikan kesempatan untuk kedengkian itu untuk membesar dan menjadi penghalang keberhasilan. Jangan biarkan rasa pesimis, jiwa gundah, tak sabar, rendah diri menjadi pemimpin bagi kita.
Percayalah, imbalan yang kita peroleh adalah gambaran dari apa yang kita berikan hari ini. Lalu “singa” manakah yang akan di berimakan hari ini?


0 komentar:
Posting Komentar